Kamis, 18 Februari 2016
Berjumpa
Bahasa Cinta Khadijah
Rabu, 10 Februari 2016
Mertua
Mertua.. kosa kata yang akhir-akhir ini menghantui, ratusan bahkan jutaan kisah telah hadir tentang ini sebelum nanti benar-benar dimiliki. Dari cerita yang tidak memiliki mertua, hidup bahagia dengan mereka, kadang rukun kadang ribut, sampai yang klasik sekalipun "musuhan sama mertua" sudah habis dikupas. Ahai.. Masa depan itu misteri entah bagaimana dan seperti apa sosoknya kelak.
Aneh tapi nyata, dari beberapa teman yang saya tanyakan tentang sosok mertua ternyata hampir semua berpikir negatif, katanya mertua itu "galak" "cerewet" "serem" "sok ngatur" "kaku" dan lainnya yang jauh dari sifat baik. Hmm lucu sih, walau semua yang menjawab ini belum pada punya mertua, haha.. nah loh ko bisa beranggapan begitu?? Mungkin inilah paradigma kebanyakan orang, pasti yang belum memiliki mertua mendengar pengalaman atau curhatan dari yang sudah pernah merasakan, atau bisa lebih parahnya lagi opini ini dibuat jika orang itu sering melihat sinetron. Ckckck.. Apa iya se"menakutkan" itu?? Atau itu halusinasi kita yang digiring karena film?
Padahal kita tahu, cerewet, kaku, galak dll adalah salah satu watak seseorang, jika seseorang itu tidak memiliki watak tersebut tidak mungkin menjadi seperti itu jika tidak ada penyebabnya. Seseorang yang baik hati sekalipun pasti bisa berubah menjadi cerewet atau galak jika memang ada yang tidak beres dengan disekitarnya, begitupun dengan mertua yang otomatis ketika kita menikah dengan anaknya, mereka menjadi orang tua kita yang hak dan kewajibannya sama dengan orang tua sendiri. Mereka selalu ingin yang terbaik buat anak-anaknya, sangat wajar kecemasan kekhawatiran mereka bertambah-tambah jika sang menantu tidak bisa mengurus anaknya, atau khawatir kepada menantu itu sendiri yang sudah dianggap anak jika sesuatu terjadi padanya.
Oh.. Mertuaku, entah seperti apa kisah yang akan tertulis antara kita.. Semoga diri ini bisa menjadi menantu idamanmu 😊😆
Jumat, 29 Januari 2016
Tugasku
Dalam buku Silsilatu mar'ah ash-shalihah karya Isham bin Muhammad Asy-syarif, yang sudah diterjemahkan dengan judul "Panduan Tarbiyah Wanita Shalihah" mengatakan:
"Tugas wanita bukan sebatas membersihkan rumah, menyajikan makan, dan melahirkan anak, tetapi jauh lebih banyak dari itu, wanita adalah pendidik generasi shalih, generasi yang mampu mengemban amanah, membangkitkan umat dan membangun masyarakat"
Tak mudah menopang tugas mulia ini, bagaimana menjadi pendidik generasi shalih, jika diri sendiri saja masih jauh dari kata shalih??.. Apalagi membangkitkan umat, membangun masyarakat, yang perlu ilmu tak sedikit soal ini.
Yupz.. Sholehkan diri itu yang harus dilakukan sekarang sebelum terlambat, sebelum semua diminta pertanggung jawaban dihadapanNya.
lalu sholeh seperti apa yang harus dilatih?? Surat Aliimran ayat 113 dan114 menjelaskan secara gamblang siapa orang yang termasuk mendapat gelar sholeh. Siapapun yang menyadari bahwa dirinya seorang perempuan, dan tahu betul tugas-tugasnya dimuka bumi ini, semoga Allah mudahkan untuk menjelaskan semua tugasnya. Aamiin
Kamis, 21 Januari 2016
Penting!!
Nasehat Kehidupan Perkawinan ::
1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita
Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.
2. KETIKA MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis, tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.
3. KETIKA AKAD NIKAH
Anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan Allah.
4. KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendoakan Anda, karena Anda harus berpikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila Anda berpikir untuk BERCERAI karena menyia-nyiakan doa mereka.
5. SEJAK MALAM PERTAMA
Bersyukur dan bersabarlah. Anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.
6. SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.
7. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.
8. KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK.
Cintailah isteri atau suami anda 100%.
9. KETIKA TELAH MEMIKI ANAK
Jangan bagi cinta anda kepada (suami) isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% dan cintai anak-anak Anda masing-masing 100%.
10.KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM MEMBAIK.
Yakinlah bahwa pintu rejeki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.
11.KETIKA EKONOMI MEMBAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.
12.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.
13.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah bersikap lembut tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.
14.KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.
15.KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau kekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.
16.KETIKA ADA PIL
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.
17.KETIKA ADA WIL
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.
18.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.
19.KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS
Gunakanlah formula 7 K
1 Ketaqwaan
2 Kasih sayang
3 Kesetiaan
4 Komunikasi dialogis
5 Keterbukaan
6 Kejujuran
7 Kesabaran
Ada kekuatan di dalam cinta dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah
orang yang kuat karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan
diri sendiri. (Sumber: http://emerson88lee.blogspot.com/)
Jumat, 15 Januari 2016
Bukan sinetron
" kerjakan PRmu terlebih dahulu, baru boleh main keluar"
ibu setengah baya itu menasehati anaknya selepas pulang sekolah.
"Aku tidak ingin bermain ibu.. Aku hanya ingin mengantarkan buku teman sekelasku yang terbawa olehku" jelas anaknya
" kerjakan PRmu dulu, baru boleh keluar, serahkan besok saja bukunya saat di kelas"
"Aku harus bergegas, jika tidak besok dia bisa dikeluarkan dari kelas oleh pak guru karena tidak mengerjakan PR di buku tulis, aku harus mengantarkan buku ini ibu.."
"Kamu tak mendengar?! Kerjakan PRmu dulu.. Ah.. lebih baik kamu beli roti dulu, sebelum bapakmu pulang" sambil pergi dari hadapan anaknya. Si anak hanya terdiam, melihat dengan seksama buku ditangannya, memikirkan apa yang akan terjadi dengan temannya esok hari, jika ia tak mengembalikan bukunya sekarang.
" belikan roti sebelum bapakmu pulang.." suara dari dalam mengagetkannya. Tanpa pikir panjang lagi, ia bergegas keluar, bukan untuk membeli roti, tapi mengembalikan buku temannya.
Itu adalah salah satu adegan awal di film "where is my friend's house??", salah satu film anak dari negara Iran. (Tentu isinya berbeda dengan dialog diatas, tapi intinya seperti itu laaah..) Hampir isi film itu adalah perjalan anak kecil yang mencari rumah temannya yang berbeda kampung, dia tak tahu percis dimana rumah temannya, tapi dengan rasa bertanggung jawab ia mencari rumahnya hingga larut malam, dan hasilnya nihil, sesuai judul film ini, sampai akhir film dia tidak tahu dimana rumah temannya itu.
Bagaimana anda saat membaca dialog diatas? Khususnya dialog si ibu? Bernada marah? Jengkel? Mungkin seperti itu, jika kita berikan dialog diatas pada para pemain sinetron. Tapi ini film, dimana ekspresi tidak berlebihan, bahkan difilm ini ibu itu berbicara datar tanpa sedikitpun bernada tinggi.
Di Film jadul ini tidak ada adegan istimewa, bahkan hampir dialognya tidak berekspersi, tentu saya melihat dari sudut pandang orang yang hidup dimasa kini, apalagi hidup di Indonesia, dimana film-film penuh dengan emosi. Inilah yang saya suka dari film ini, bagaimana seorang anak berbicara tidak melebihi suara orang tua, memaksa tidak dengan berteriak atau menangis. Saya membayangkan saat nonton film ini, jika nanti si anak pulang kerumah pasti akan dimarahi ibu atau bapaknya, tidak membelikan roti, dan pulang saat hari sudah gelap. Tapi ternyata perkiraan saya meleset jauh, saat dia pulang, ibunya tidak marah sedikitpun, dia hanya menyuruh anak itu makan dan bergegas tidur, tentu dengan ekspresi sederhananya. Saya berpikir seperti itu mungkin karena hampir di film, sinetron atau drama manapun saat si anak pulang telat dan tak mendengarkan orang tua, imbalannya adalah nasehat panjang lebar, atau tidak mendapat jatah makan malam, atau bahkan sebuah pukulan, atau hal-hal yang tidak memikirkan perasaan si anak yang sudah lelah, perlu istirahat karena sudah mencari rumah temannya dengan berjalan kaki.
Sebagai calon umma, inilah yang bisa menjadi catatan, disaat orang tua dalam keadaan benar, kadang ia berpikir egois tentang dirinya sendiri, tanpa memikirkan perasaan anak, dimana penjelasan anak hanya dianggap sebuah alasan untuk bermain tanpa memikirkan apa dibalik itu semua. Ingatlah anakmu nanti hanya bertubuh lebih kecil darimu, tapi pikiran dan perasaan percis seperti orang dewasa rasakan dan pikirkan.
Selasa, 12 Januari 2016
Jarak
Terima kasih pada jarak yang mengajarkanku apa itu "kepercayaan". Dalam situasi seperti ini, dimana pikiran meliar bebas, hanya "saling percaya" yang membuat tenang. Walau entah seperti apa kenyataan sebenarnya, cukup bagiku percaya padanya.
Terima kasih pada jarak yang mengajarkanku apa itu komitmen, menangguhkan satu ketetapan dan berkomitmen pada ketetapan itu adalah pilihan yang harus diambil.
Jarak yang tidak hanya sebatas jauh dan dekat, jarak yang menembus dimensi tak terhitung, itulah jarak antara aku dan dirinya. Suatu saat dimana Tuhan menghapus jarak itu, disanalah kita dipertemukan dalam keridhoanNya.