Kamis, 27 Oktober 2016

Menunggu

Saat saya menulis ini, di luar hujan deras sekali, ditemani alunan musik yang saya tidak tahu siapa penyanyinya, tapi cukup membuat suasana ruangan ini nyaman. Sepertinya hujan akan berlangsung lama, karenanya saya mencoba menikmati keadaan, Keadaan menunggu hujan tanpa ada keluhan.

Mata rasanya sudah begitu berat, ingin cepat pulang dan tidur lelap, tapi lagi-lagi harus menunggu. Banyak hal yang bisa dilakukan saat menunggu hujan, tapi sekarang sambil menulis ini saya ingin memikirkan "perindu hujan", apa yang dirasakan sekarang? Bahagiakah? Akhirnya pertemuan antara air langit dan tanah telah tercipa kembai...

Minggu, 16 Oktober 2016

Kirologi dan hibernasi

Pernah mendengar "Kirologi"?? Itu adalah nama sebuah ilmu.. ilmu yang menggunakan kira-kira.. tentu ini adalah plesetan.. saya mengetahui ini dari teman, dia orang Palembang, dalam bahasa Palembang "kiro-kiro" adalah kira-kira. Jadi istilah "kirologi" digunakan untuk orang yang suka mengira-ngira terhadap sesuatu.

Bagaimana dengan hibernasi??Pertama kali mendengar kata hibernasi, saya kira itu adalah bahasa sunda yang dikerenkan... (hiber dalam bahasa sunda berarti terbang) karena kata-kata biasa yang diubah menjadi "kata keren" atau kata "sok ilmiah" sudah menjadi tren dikalangan masyarakat saat ini, maka saat teman saya mengatakan ingin berhibernasi, dalam benak saya, dia menginkan terbang jauh pergi dan tak ada satupun yang dapat menjangkaunya, dari sana saya sering menggunakan istilah itu jika saya ingin sendirian tidak ada yang mengganggu. Saya tidak pernah bertanya, saya hanya mengira arti hibernasi, dan teman saya tidak merasa curiga dengan pemahaman saya, karena dalam benaknya arti hibernasi menurut biologi yang dipahaminya tidak jauh beda dengan pemahaman saya, sama sama tidak ingin keluar dari satu tempat dan menjauhi keramaian.
Setelah beberapa kali menggunakan kata hibernasi saya mulai penasaran, apakah pemahaman saya betul atau tidak terhadap kata itu, akhirnya satu-satunya cara adalah bertanya, hal tercepat adalah bertanya pada om google, dan akhirnya terjawab sudah arti yang sebenarnya.
Dalam hidup, kadang kita memahami dan meyakini satu hal, padahal kebenaran dan keyakinan kita belum tentu benar adanya, satu satunya cara adalah dengan mencari kebenaran dan keyakinan itu, dan jangan sampai kita termasuk ahli kirologi.

Minggu, 11 September 2016

Semoga Tambah Berkah

Pernah ditanya kenapa sering mengucapkan "semoga tambah berkah", menurutku ucapan ini lebih bermakna dibanding kata "selamat". Rasanya tidak cukup saja mengucapkan "selamat" kepada seseorang yang sedang bertambah usia atau mendapatkan suatu kebahagian.
Imam Ghozali mengatakan berkah atau barokah bermakna ziyadatul khoir yang berarti bertambah kebaikan, oleh karenanya berkah adalah kebaikan yang terus menerus berkesinambungan, tumbuh ke arah yang lebih baik, baik harta, ilmu, umur, kesejahteraan, keamanan dll.
Harta yang barokah, didapat dan digunakan dengan cara yang baik, sisa umur digunakan dengan cara yang baik, ilmu diamalkan dengan baik, kesejahteraan diri dan keamanan jiwa dan raga bertambah kearah yang lebih baik..
Itu sebabnya kata "semoga tambah berkah" lebih saya sukai dibandingkan ucapan selamat milad, ulang tahun, atau mengulang tahun yang berarti semoga selamat tidak ada bahaya dalam memperingati hari lahir saja..
Tentu Kata penuh makna dihari spesial lebih baik bukan??

(yang sedang bertambah usia semoga tambah berkah)

Kamis, 18 Agustus 2016

Ajarkan Rindu

Bisakah aku merindu??
Rindu yang meneteskan air mata
Rindu yang menggetarkan relung jiwa

Tak apa
Jika harus ku beli rindu itu
Tak apa
Jika harus ku rebut rindu itu

Ajarkan aku merindu...

Rindu untuk bersegera bangkit disepertiga malam
Rindu yang menggetarkan jiwa jika disebut namaNya..

Karena aku pun ingin merindu seperti mereka

Selasa, 16 Agustus 2016

Durasi

Masa telah menjawab
Kini kami di sini
Menikmati durasi penuh makna

Hei lihat...
Tak bisakah sejenak kau tengok
Tangan tangan lentik menari
Bercengkrama dengan tinta
Barisan tinta menjelma menjadi makna
Menenggelamkan siapa yang terlena

Kami terus tenggelam
Terbuai dalam kesyahduan nada nada pengetahuan

Kamu tahu??
Kadang kami merasa sesak
Sesak yang menghimpit aliran nafas
Tercekik!!
Kami pun ingin bebas
Menggeliat, meronta, mencengkram apapun
Menjerit sekuat yang kami bisa

Kebebasan yang membuat kami terengah
Terengah dalam keluhan

Wahai kesakitan...
Terima kasih, kau mengajarkan kami arti bertahan

Duhai kebebasan...
Cukup sudahi membodohi apa yang harusnya kami miliki

Durasi ini tak akan terulang
Maka izinkan kami menikmati barisan tinta, memahaminya dan merekam jejaknya dalam sebuah karya

(Puisi ini tercipta karena paksaan) 😅

Kamis, 04 Agustus 2016

Niat

Baiklah, kali ini mari kita berbicara tentang pernikahan, ya lah perempuan mana yang pengen jadi ibu tapi ga nikah, ada juga sih, belum nikah udah dipanggil ibu, contoh ibu guru, udah dipanggil ibu kan? 😀
Buanyak buanget artikel soal pernikahan, karena bahasan ini selalu menarik untuk para jomblo, dari hukum, anjuran, lika-liku, manis pahitnya dll. Tentu yang bikin baper yang manisnya, klo baca artikel mengenai itu rasanya tuuuuh...... ah sudahlah makin baper nantinya.
Why? Kenapa? Kunaon? Tiba2 pengen nulis ini? Jawabannya.. percis kaya lagu BB ciptaan Teh Melly goeslow..  "ku ingin menikah seperti mereka" aiiih pengen doang?? Ckck klo udah kecapai terus mau ngapain? Nah ini yang jadi catatan, banyak orang nikah cuman kepengen aja, gak tau arah bahtera rumah tangga.. yang bahaya lagi nikah cuman gara-gara perasaan dan omongan orang lain, kaya udah nyaman sama seseorang atau udah bosen ditanya kapan nikah (nyindiri diri) 😅, terus kudu gimana? Seperti hal yang lain, jika ingin melakukan sesuatu yang pertama dilakukan adalah berniat, tentu niatnya untuk apa? Niat inilah yang akan menguatkan kita jika suatu hari nanti kita dalam keadaan goyah.

Urusan niat ini emang penting, yakin ngomong koar koar ke orang-orang nikah niatnya karena perintah Allah dan sunah Rasul? Walau niat tidak dapat dinilai secara jelas tapi tentu ada indikator yang terlihat. Emang cara menuju arah itu udah sesuai sunah Rosul? Caranya Allah ridhoi? Atau jangan-jangan hanya ucapan pembungkus saja 😌 (astagfirulloh 😢)

Yuk ah, calon ibu yang baik menyiapkan dan menurunkan gen-gen terbaik, tentu terbaik versi Allah adalah yang terbaik. Jika sudah berniat, netralkan semua perasaan, pusatkan pada pemilik hati, lakukan dengan cara terbaik, dan minta  yang terbaik untuk menjadi pasangan dan ayah anak - anak kita kelak didatangkan secepatnya. 😊😊

Kamis, 21 Juli 2016

Modal

Hampir satu bulan tidak menulis lagi disini.. inipun memaksakan dan membiasakan, banyak hal sebenarnya ingin dituang, tapi carut marut dalam pikiran.
Ingat..
kemarin saya ngobrol sama ibu muda, ga jauh beda umurnya sama saya, tapi dia sudah memiliki anak. Percakapan dimulai saat saya mau ngambil saus, jadi siang itu saya dan teman saya jajan mie ayam, dan disebelah kami sudah ada ibu muda itu.
"Jangan banyak-banyak ya teh sausnya" ujarnya sambil tersenyum.
Saya pikir mungkin dia takut ga kebagian saus, saya balas dengan anggukan dan nyengir kuda.
"Teteh-teteh sering makan seperti ini?" Tanyanya
Otomatis suapan pertama saya terhenti, menoleh keteman saya yang disebelah, diapun sama menoleh. Siapa yang mau jawab??!! Begitulah arti tatapan kami.
"Seperti ini?? Mie ayam?" Akhirnya saya disuruh meladeni ibu muda itu,
"Iya, mie ayam, baso, dan lainnya"
"Ooh, jarang sih pas pengen ajja" jawabku jujur
"Sedih loh teh, anak kita masih kecil, masih membutuhkan perhatian kita, tapi kita tidak bisa optimal membersamai mereka" ujarnya sambil ngelus balita yang digendongnya.

Wah saya kudu jawab apa ini, temen saya sudah tidak peduli karena ingin menikmati mie ayamnya. Posisi saya tepat disamping ibu muda itu, jadi ga mungkin membiarkan curhat colongannya tanpa respon.

"Dede mau ditinggal kemana emangnya ibu?? " ujar saya sambil bersuara anak kecil, tak lupa sembari mengelus dede balitanya.

"Mie ayam ini untuk ua nya si dede, saya sudah berhenti makan seperti ini sejak satu tahun yang lalu" sambil mengangkat bungkusan mie ayam.

Ditanya apa jawab apa batinku, kasih senyum aja dech.

" anak kita punya hak memiliki ibu yang sehat loh" ujarnya sambil tersenyum "duluan ya teh" lanjutnya.

Reflek saya mengangguk sambil tersenyum.

Pikiran saya melayang dengan percakapan pendek itu. Apakah dia seorang ibu muda yang diutus Allah untuk mengingatkan agar berhati2 dengan makanan??

"Sungguh tak mudah menjadi seorang ibu, menjadi rahim peradaban.. fisik yang sehat, pikiran yang bersih setidaknya menjadi modal utama.."