Rabu, 21 Oktober 2020

Kopi

Kenalin gue kopi, disiapin Marni buat lakinya si Narjo. Hampir tiap pagi gue ditemenin bakwan atau goreng pisang. Kalau mereka lagi ga punya duit biasanya cukup kopi doang, tanpa gula tanpa gorengan. Kaya sekarang. 

Seperti biasa gue dibawa Marni ke teras rumah. "Maaf ya bang, gulanya abis". Katanya sambil nyodorin gue. Lakinya cuman ngangguk sambil ngeluarin rokok.

"Beras juga abis bang", lanjutnya. Tuh laki bukanya bales omongan malah ngeluarin hape. Sirius bener kalau lagi megang hape ampe bini kagak digubris. Kasian kan si Marni. Pergi deh. 

Lama gue dicuekin Narjo. Ampe dingin. Mukanya bingung. Kasian gue liatnya. Rokok udah abis tiga batang, gue belum diuyup. 

Ujug-ujug Narjo ngambil jaket ijo, buru-buru nyalain motor sambil teriak pamit.
"MAR, ABANG PERGI DULU UDAH ADA ORDERAN!"  Woi mau kemana? Gue kagak disentuh-sentuh Acan. 

Marni buru-buru keluar rumah, tapi lakinya udah pergi. Akhirnya gue diambil lagi ke dapur. Gue kira bakal langsung dibuang ternyata diseruput. Doyan juga kopi pait. Jangankan kopi ya Mar, idup pait aja lu adepin. 

Paitnya gue di pagi hari adalah bukti bagi mereka untuk bangun dan berusaha. 

Selasa, 20 Oktober 2020

kosong

Gemetar diri ini
Berlari ku tak sanggup
Gontai jalan perlahan
Hei! genggam aku!

Lorong sunyi
Remang menemani
Aku takut
Temani aku!

Kau acuh akan aku
Pergi tanpa empati
Berharap ku tak menggangu
Mana pedulimu?!

Perlahan ku mendekat
dingin ku rasakan
Percis ku pikirkan
Tak ada yang bisa ku makan


#writober#RBMIPJakarta#Nihil








Senin, 19 Oktober 2020

Masker

Murni bergegas masuk rumah setelah turun dari motor. Membanting plastik hitam ke meja. pantat didaratkan dengan kasar di atas sofa. Tangannya menyilang di dada. Nafasnya menderu cepat. Emak yang mendengar suara di ruang depan segera keluar kamar menghampiri Murni. 

"Nape lu?", tanya emak sambil duduk samping Murni. Tak ada jawaban. Murni malah memonyongkan bibirnya. 

"Heh, kalo orang tua nanya tuh dijawab!" Emak jadi sewot. Tapi anaknya malah melirik sinis tak lupa dengan bibir monyongnya. Karena emak semakin kesal akhirnya pundak Murni digeplak keras.

"AW! SAKIT MAK, TADI KENA RAZIAAAAAA", teriaknya. Amarah yang dari tadi dipendam akhirnya keluar. Sudah tak bisa dibendung. Sedu-sedan membahana seantero rumah.

"DUIT AYE DIAMBIL POLISIIIIIII", lanjut Murni. Tangisnya pecah, sambil ngelap ingus yang mulai mengalir.

"DUA RATUS REBU MAAAAAAK". Pundak emak menjadi korban. Diguncang-guncang untuk menunjukan kekesalannya. 

"Yeh, berisik, Malu ame tetangge" bujuk emak. "Lagian lu kalo naik motor pake helm, biar aman...". 

"Bukan razia motor Maaaak, tapi razia masker" Murni cepat memotong nasehat emak, kalau tidak dipotong bisa panjang seperti jalan tol. 

"Ape?? Masker??" Tanya emak bingung. Murni hanya mengangguk.

"Tuh kaaaan dibilangin juga ape kagak denger sih, pake masker pake masker malah kagak denger...". Ijal ikut nimbrung, ternyata dari tadi dia mendengar percakapan emak dan mpoknya. "...tonton tuh berita biar aptudet bukan opa-opa Korea muluuuu" ledeknya sambil berlalu keluar rumah.
"BAWEL" ujar Murni, tangisnya makin pecah, marah kesal tak ikhlash uangnya diambil polisi. Emak hanya bisa menenangkan anak gadisnya. 


***


Sesosok perempuan berjilbab yang sedang dibonceng lagi-lagi menurunkan maskernya, lubang hidung dibiarkan terlihat agar dapat menghirup udara lalu menutupnya kembali. 

"JAL! GUE GA KUAT PAKE MASKER" ujarnya sedikit teriak takut orang yang memboncengnya tidak mendengar karena deru kendaraan lain, tak lupa menarik masker agak kedepan untuk memudahkannya berbicara. 

"UDAH PAKE AJA, BIASAIN!! MASKER GA BAKAL BIKIN LU MATI!! MASKER PENTING BUAT SEKARANG!!" yang membonceng tak kalah lantang. Sang perempuan hanya bisa diam sambil mengatur aliran nafas yang tertutup masker, berharap terbiasa dengan semua itu. 

#writober#RBMIPJakarta#Adaptasi

Minggu, 18 Oktober 2020

Stay at home

[Bo'ong lu! Ya kali ga bosen]

[Haha]

[Ayo ikut]

[Ga ah takut]

[Etdah lu kira pocong]

[Nanti gue VC aja]

[Ga seru!]

[Haha sorry tapi beneran ga bakal diizinin juga]

[Kabur aja lu kabur]

[Wkwkwk dicoret emak dong dari KK]

[Ga ada lu ga rame]

[Ya udah ga usah pergi]

[Bosen!!]

[Sabar]

Tak ada balasan. Ijal keluar dari aplikasi obrolan dan menaruh gawai di samping bantal. Atap kamar bercat putih menjadi pemandangan favoritnya akhir-akhir ini. menjadi kaum rebahan sudah disandangnya beberapa hari lalu. Pembelajaran daring dan tumpukan tugas sudah selesai, waktu liburan harusnya menyenangkan tapi nyatanya tak sesuai harapan. 
Keragu-raguan dalam hati pemuda itu timbul, pikirannya berseteru. pergi bersama teman-temannya atau tetap patuh pada aturan. Bosan! Pasti bosan, meski ia menyangkal pada temannya barusan tapi dirinya memang merasakannya. Tak banyak yang bisa dilakukan di rumah, dengan rutinitas yang begitu-begitu saja ia pun merindukan dunia luar. Dibanding teman-temannnya ia termasuk yang beruntung, masih mendapat kenyamanan walau hanya di rumah. Tak sedikit temannya merasakan penderitaan saat berlama-lama di rumah. Seperti anak broken home yang harus mendengar keributan orang tua setiap hari. Omelan bagaikan peluru di medan perang, terus meluncur tak ada habisnya. Mereka tak punya pilihan, dalam rumah bagai neraka, di luar rumah siap dimangsa. 
Setelah menenangkan dan meyakinkan diri Ijal meraih gawai lalu membuka aplikasi Instagram, menulis beberapa kalimat di insta storynya.

[Pilihanku #stayathome]


Agustus 2020
[Jal, lu ga jenguk gue di wisma atlet?]

[Emang boleh?]

[Kagak wkwkwk]

[Cepet pulih wan]

[Aamiin]





#writober2020#RBMIPJakarta#Pagebluk




Sabtu, 10 Oktober 2020

Melatih Kemandiran #3

✓ Temuanku
Usia Ammar bulan ini 33 bulan. Target kemandirian yang ingin dilatih: menyikat gigi, memilih pakaian sendiri dan toilet training.
✓ Strong Why
Aku ingin melatih kemandirian-kemandirian diatas agar terbentuk jiwa kemandirian terhadap hal kebersihan dan menumbuhkan sikap percaya diri.

✓ Startegi untuk melatih kemandirian
- memberi contoh atau arahan
- membersamai diawal
- memberi pujian/reward
- diingatkan jika ada kesempatan

✓ Sukses apa aku hari ini
- Memberi contoh menyikat gigi

✓ Tantanganku hari ini
- Emosi saat dia ngompol di celana
- ingin memakai baju kesayangan yang masih basah di jemuran

✓ Ingin sukses apa esok hari
Tidak mudah emosi saat dia mengompol di celana dan dia mampu menyikat gigi dengan baik

*Rasaku hari ini kecewa
*Respon ananda tidak bersemangat

Melatih Kemandirian #2

✓ Temuanku
Usia Ammar bulan ini 33 bulan. Target kemandirian yang ingin dilatih: menyikat gigi, memilih pakaian sendiri dan toilet training.
✓ Strong Why
Aku ingin melatih kemandirian-kemandirian diatas agar terbentuk jiwa kemandirian terhadap hal kebersihan dan menumbuhkan sikap percaya diri.

✓ Startegi untuk melatih kemandirian
- memberi contoh atau arahan
- membersamai diawal
- memberi pujian/reward
- diingatkan jika ada kesempatan

✓ Sukses apa aku hari ini
- Tidak merebut sikat giginya
- Melatih melepas celananya sendiri

✓ Tantanganku hari ini
Dia memilih baju tidur, padahal akan pergi keluar rumah.
✓ Ingin sukses apa esok hari
Memberi tahu jenis dan fungsi pakaian

*Rasaku hari ini sangat bahagia
*Respon ananda bersemangat

Melatih kemandirian #1

✓ Temuanku
Usia Ammar bulan ini 33 bulan. Target kemandirian yang ingin dilatih: menyikat gigi, memilih pakaian sendiri dan toilet training.
✓ Strong Why
Aku ingin melatih kemandirian-kemandirian diatas agar terbentuk jiwa kemandirian terhadap hal kebersihan dan menumbuhkan sikap percaya diri.

✓ Startegi untuk melatih kemandirian
- memberi contoh atau arahan
- membersamai diawal
- memberi pujian/reward
- diingatkan jika ada kesempatan

✓ Sukses apa aku hari ini
- berhasil membujuk ia mengambil pakaian sendiri
- berhasil membujuk lepas pospak

✓ Tantanganku hari ini
Saat menyikat gigi dia tidak mau menggosok-gosok giginya. 
✓ Ingin sukses apa esok hari
Membiarkan dia dengan sikat giginya tanpa merebut paksa

*Rasaku hari ini bahagia
*Respon ananda bersemangat