Rabu, 11 November 2015

Lagu kecil dari bapak

Izinkan di hari ayah ini, anak ke-6mu mengingat lagu kecilnya, lagu yang sering engkau nyanyikan sebagai penghantar tidur anak-anakmu, lagu yang membuat dia terdiam ketika tangisannya pecah, lagu yang sampai saat ini tidak diketahui judul, penyanyi, dan penciptanya. Dayuan nadanya begitu sempurna saat engkau menimangnya dalam pelukanmu.

"Waktu itu lahir kedunia
Gembiralah ayah dan bunda
Dipangkuan mereka kau dimanja
Ayahanda serta bunda
Melupakan segalanya
Hanya untuk kehadiranmu
Dipagi hari ayahmu menimbang dengan bangga dan menyayangimu
Dimalam hari ibumu tersentak bangun untuk menyusuimu
Oooh ooh ooh..
Jadilah engkau anak dewasa
Pembela kebenaran
Serta menegakan keadilan
Jadilah engkau anak dewasa
Pembela kebenaran
Serta menegakan keadilan
Oooh..ooh..oooh"

Sungguh hanya lirik itu yang di ingat, entah ada lirik selanjutnya atau tidak, tapi lirik ini salah satu penyemangat dalam hidupnya sebagai anak, dia selalu merasa dicintai oleh umi dan bapaknya setiap teringat lagu ini.

(Pak.. Terima kasih sudah sering menyanyikan lagu ini, jika kelak neng memiliki anak, akan ku nyanyikan ulang 😊)

Senin, 09 November 2015

Sekolah peka

Dibuka sekolah "peka", khusus buat kamu yang ga pernah peka. Sekolah ini akan mengajarkan kamu bagaimana menjadi orang yang pekaan.
penempatan kelas dibagi sesuai kepekaan siswa. Jika calon siswa bisa peka terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya tapi tidak terhadap diri sendiri, langsung di simpan di kelas tiga, karena hanya butuh sedikit latihan untuk dinyatakan lulus.
Jika calon siswa dapat peka terhadap diri sendiri dan kepada lingkungan tapi tidak terhadap orang lain disekitarnya, maka calon siswa ini akan di masukan ke kelas dua, dengan sering latihan berinteraksi dari hati-ke hati insya Allah akan terbiasa.
Dan jika ada calon siswa yang tidak pernah bisa peka terhadap diri sendiri, lingkungan dan orang lain, otomatis dimasukan ke kelas satu, dengan latihan super khusus.
Siswa dinyatakan lulus jika sudah bisa peka terhadap diri sendiri yang memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi, dan peka terhadap lingkungan yang menjadi tempat tinggalnya, serta peka terhadap orang lain disekitarnya yang selalu mengharapkan kepekaan darinya.
Penutupan sekolah ini hanya akan terjadi jika sudah tidak ada lagi yang tidak peka. Terima kasih

Senin, 02 November 2015

Catatan 22 Muharram

Ada dua hal menarik bagi saya hari ini, semua kejadiannya ketika mengajar di kelas. Pertama, disebabkan ada acara Halaqoh Mudaris, sejenis pengkaderan untuk menjadi guru Al-quran, beberapa anak terpilih untuk mengikuti acara itu, dan tidak mengikuti kelas saya. Secara kebetulan anak-anak terpilih adalah anak-anak berprestasi, otomatis sisanya yang masih masuk kelas adalah anak-anak yang sedikit susah dalam hal pelajaran. Tapi dari hal ini saya mengerti, di luar dugaan anak-anak yang saya kira kurang aktif, kurang respon dalam pelajaran menunjukan ke aktifannya. Biasanya tidak pernah bertanya ketika belum faham, hari ini dengan lantang mereka bertanya, tak segan-segan mengerjakan tugas tambahan, dan berlomba-lomba untuk dikoreksi. Melihat mereka hari ini, saya menyadari, ada diri saya dalam diri mereka.
Ketika SMP saya pun seperti mereka, menelan pahit-pahit tanda tanya jika di kelas banyak yang sudah mengerti, ingin bertanya tapi serba salah, takut memperlambat pelajaran jika guru menerangkan lagi. Akhirnya saya lebih sering masuk kelas khusus atau kelas tambahan karena sering di ulang pelajarannya. Dan disana saya lebih leluasa bertanya, sepertinya perhatian guru ketika dikelas tambahan berbeda dengan di kelas biasa, sama dengan mereka, agresif dengan semua tugas, mengejar keterlambatan.
Apakah mereka sama halnya dengan saya malu bertanya karena ketidak enakan kepada temannya?? Merasa perhatian guru hanya ada di kelas khusus saja? Semoga tidak, karena ini akan menjadi penyesalan akhirnya.

Kedua, tidak jauh berbeda dengan yang pertama, tentang perhatian intinya, bedanya ini berhubungan dengan anak kecil. Disela-sela pelajaran sore, beberapa anak kecil, masuk ke kelas, sudah biasa banyak anak kecil disini karena lingkungan asrama, banyak anak pengurus berkeliaran dan kelas hanya pelajaran tambahan untuk pengerjaan latihan-latihan. Tapi yang bikin kesal, mereka membawa tongkat bambu, entah dari mana mereka mendapatkannya. Biasanya mereka hanya ikut duduk membuka-buka buku, atau mencoret lembaran yang sudah di sediakan oleh salah satu murid saya, tanpa menggangu pelajaran. Awalnya tidak begitu menghiraukan kelakuan mereka, tapi setelah bertambah jumlahnya, dan keributan terjadi, semua menjadi kacau, aduh, serba salah, harus bagaimana, disuruh keluar, mereka mencoba menyerang saya dengan tongkat bambunya, dibiarkan, kelas tidak kondusif, mau marah, ga tega marahinnya, lagian kalau nangis nanti saya yang disalahkan, ampuun.
Saya kasihan melihat murid yang mulai terganggu, mereka mencoba bersikap tidak bersahabat agar bocah-bocah itu pergi, memelototi, mengambil tongkat dan di simpan di tempat tinggi, tapi hasilnya nihil sama seperti yang saya lakukan pertama kali ke bocah-bocah itu, mereka malah semakin tak karuan, bocah yang lain, membela dan membalas jika ada yang berani mengganggu temannya. Saya berpikir keras, rayuan, atau kelembutan tidak akan ada efek sepertinya kalau begitu hanya ada satu cara..

"Woiii ayo kita main perang-perangan di luaaaar..!!" teriakku dengan memasang ekspresi menantang bocah-bocah itu.

"Teteh mau jadi Khalid bin walid nih.." aku ambil salah satu tongkat bambu mereka dan mengayun ayunkannya seperti bermain pedang. Tepat, sesuai yang diinginkan, mereka menerima tantanganku dengan suka cita, sorak sorakpun terdengar. Tanpa diperintah dua kali mereka langsung berlarian keluar. Dengan isyarat mata saya pamit meninggalkan kelas, dan berpesan agar melanjutkan latihan tugasnya. Saya giring bocah-bocah itu agar jauh dari kelas, Mereka sudah menunggu intruksi, perang seperti apa yang saya inginkan. Saya tegaskan, saya berperan sebagai panglima perang Khalid bin walid, semua ada dibawah kekuasaan saya, dan mereka menyetujui, agar perang lebih hidup, saya suruh mereka berperan menjadi para sahabat Rasulullah, dua anak langsung menamai diri mereka dengan Umar dan Ali, sisanya hanya bengong tidak tahu harus menamai dengan apa.
"dede kamu mah jadi Rasululloh aja, jagoan tau rasululloh mah" pemeran Ali memberi saran kepada adiknya, si adik pun menyetujui, tinggal saya yang bingung, "kan ga boleh Rasululloh diperanin, apalagi sama bocah begini" batinku.

"Ok sama teteh aja dikasih namanya ya, biar Rasululloh jangan di ikut sertakan, kita bayangkan Rasululloh sedang berperang di tempat lain"
"kamu jadi Abu bakar, kamu Utsman.." sambungku cepat agar tidak ada yang bertanya atau ingin memainkan peran Rasululloh lagi, ku namai mereka dengan 8 sahabat yang ku hafal, sempat mereka protes karena di antara mereka banyak perempuannya, kenapa namanya laki-laki?! "Aduh, masalahnya shohabiah hanya beberapa yang suka berperang, itu pun teteh lupa namanya" gerutuku dalam hati.
"Tidak apa-apa, ini hanya main-main, karena yang suka berperang adalah para sahabat Rasululloh yang gagah perkasa" tegasku, sambil dalam hati berjanji setelah ini kudu baca shiroh shohabiah lebih mendalam.
Antusias mereka begitu besar, tapi saya tidak tahu harus memualai seperti apa, jika peperangan benar-benar terjadi ditakutkan ada korban, tongkat bambu lumayan sakit jika terkena pukulannya. ya latihan perang sepertinya cukup, dan bocah-bocah tidak akan kecewa. Saya mainkan peran sebagai panglima perang, suara membangkitkan semangat berjuang membela islam tak lupa saya sampaikan, saya atur 8 bocah itu dengan posisi berhadap-hadapan, bocah yang lebih besar dipasangkan dengan yang lebih kecil darinya, karena akan membantu ketika latihan. Saya sampaikan sebelum berperang dengan musuh islam kita harus latihan, jika tidak nanti kalah, tidak ada pilihan mereka harus mengikuti apa kata panglimanya.
Saya contohkan cara mengayunkan pedang, perlahan-lahan, sengaja mengenai lawan dihadapan saya sehingga terdengar suara benturannya, mereka memperhatikan dengan seksama, bocah yang menjadi lawanku mulai menyiimbangi, perlahan-lahan,
"tak-tak-tak-tak-tak" suara pedang kami terdengar mantap. Bocah-bocah itu tanpa diperintah langsung mengikuti.
"Perlahan-lahan, hati-hati, ini kawan bukan lawan, ini latihan bukan peperangan" tegasku, antipasi jika ada yang mengibas tongkatnya dengan kasar. Sesuai contoh dan intruksi mereka melakukannya dengan baik, menyeimbangi teman dihadapan mereka. Melihat mereka terfokus pada latihannya saya izin untuk pergi, tak lupa mempersilahkan istirahat bila ada yang kelelahan, dan melanjutkan latihan setelah istirahat. Mereka mengangguk tanpa melihat, seakan enggan kenikmatan permainan pedang mereka diganggu.
Segara saya menuju kelas, senyum kebebasan mengembang saat memasukinya, tak lupa menutup rapat si pintu agar bocah-bocah itu tak bisa masuk lagi. Alhamdulilah kita dapat melanjutkan pelajaran hingga selesai dengan tenang.
Lalu bagaimana keadaan si bocah-bocah itu??
Diluar dugaan mereka asik masing-masing, tidak ada yang melanjutkan latihan pedangnya, mungkin bosan latihan seperti itu terus, ditambah panglima perangnya melarikan diri entah kemana. 😅
Jika mereka bersikap menyebalkan mungkin memang mereka sedang butuh perhatian, mereka ingin menunjukan tongkat bambu yang mereka miliki kepada sekitarnya, sehingga mereka bersikap seperti di awal. Hanya kita sebagai orang dewasa bagaimana menyikapinya, walau sungguh mengalihkan perhatian mereka itu tidak mudah. Jika idea dalam pikiran kita membuat mereka senang, bisa jadi mereka mengikuti apa yang kita inginkan, tapi jika tidak, itu bukan urusan yang mudah pastinya.

Minggu, 25 Oktober 2015

Pelangi dan mimpi

Baca dan resapi kawan.. Lirik lagu ini adalah bukti kita punya mimpi.. Enak banget klo plus dengerin lagunya.. Pelangi dan mimpi ost laskar pelangi 2 edensor..

Kamu, aku, dia dan mereka
pasti punya mimpi punya cita-cita…
kamu, aku, dia dan mereka
pasti ingin semua mimpi menjadi nyata
Dan bisa kita lakukan semua
walau tak mudah tapi kita bisa
pasti ada jalan tuk para pemimpin
menuju ujung cita

Hidup akan berwarna jika kita terus berlari
diantara indahnya warna-warni pelangi
laskar pelangi teruslah melangkah dan bermimpi
Bermimpilah terus hingga Tuhan kan memeluk mimpimu

Kamu, aku, dia dan mereka (Kamu, aku, dia dan mereka)
pasti ingin semua mimpi menjadi nyata

Dan bisa kita lakukan semua
walau tak mudah tapi kita bisa
pasti ada jalan tuk para pemimpin
menuju ujung cita (menuju ujung cita)
Hidup akan berwarna jika kita terus berlari
diantara indahnya warna-warni pelangi
laskar pelangi teruslah melangkah dan bermimpi
Bermimpilah terus hingga Tuhan kan memeluk mimpimu
Hidup akan berwarna jika kita terus berlari
diantara indahnya warna-warni pelangi (warna-warni pelangi)
laskar pelangi teruslah melangkah dan bermimpi (teruslah melangkah dan bermimpi)
Bermimpilah terus hingga Tuhan kan memeluk mimpimu (memeluk mimpimu)
#CJR

Semangat jiwa para pemimpi.. Raihlah mimpi2 itu.. Jika memang kita ditakdirkan meraih mimpi bersama, genggam tangan ini, kuatkan, jangan lepaskan.. Tapi jika kita ditakdirkan meraihnya dengan jalan yang berbeda, doa diantara kita yang saling menguatkan.. 😃😊

Sabtu, 24 Oktober 2015

Ketika rindu begitu dalam

Kisah Bilal bin Rabah RA Sepeninggal Rasul SAW

Semenjak Rasulullah SAW wafat, Bilal RA menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar RA memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata: Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.

Maka, Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Abu Bakar RA sangat memahami perasaan yang berkecamuk dalam hati Bilal sepeninggal Rasul, orang yang paling mereka cintai itu.

Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islami menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Suriah.

Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah SAW hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? (Ya Bilal, wa maa hadzal jafa?) Mengapa sampai seperti ini?

Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah.

Setiba di Madinah, di depan makam Rasul yang mulia itu, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah SAW: Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.

Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal: Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.

Ketika itu, Umar bin Khattab RA yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Dan Bilal pun memenuhi permintaan itu. Untuk mengenang Rasulullah SAW. Maka, saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.

Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz "Allahu Akbar" dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata "Asyhadu an laa Ilaha illalLaah", seluruh isi kota Madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Sebab, dahulu, setiap ada suara seperti itu pasti ada Rasulullah SAW di masjid. Mereka berlarian ke masjid karena kerinduan yang membara ingin berjumpa dengan Rasul yang telah sekian lama hilang dari pandangan mereka. Maka, begitu suara adzan Bilal itu terdengar,  banyak yang tidak sadar bahwa Rasulullah telah wafat.

Dan saat Bilal mengumandangkan "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah", Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya.

Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu Madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.

Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Saya ceritakan kembali kisah ini tadi pagi (25/10/15) kepada anak2 kami di Alkamil, diakhir pelajaran hadits. Dan air mata pun tak bisa dibendung. Mengalir deras dengan sendirinya. Terhanyut dalam renungan kisah.

Tak ada suara yang saya dengar dari anak2, kecuali isak tangis kecil menemani kisah yang dibacakan. Sampai saya pun tak mampu lagi menggerakan mulut untuk meneruskan kisah ini di hadapan anak2. Tak terasa kedua sudut mata ini meneteskan air mata yang hangat.

Ya Allah, saksikanlah, betapa dalamnya kerinduan kami kepada Rasul-Mu: sosok yang kami tidak pernah menjumpainya namun selalu ada dalam hati kami. Sosok yang kami nantikan syafaatnya di hari kiamat kelak, atas izin-Mu, Ya Rabb.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

#catatan salah satu guru al-kamil

Jumat, 16 Oktober 2015

Catatan 4 Muharram 1437 H

Kamu benci jika ada seorang ibu memerahi anaknya didepan umum

Kamu benci jika melihat seorang ibu mencubit, memukul atau semua bentuk aniaya kepada anaknya

Kamu benci jika mendengar seorang ibu mengomeli anaknya ketika dia sedang menangis

Kamu benci jika mendengar seorang ibu membohongi anaknya

Kamu benci jika mendapati seorang ibu lebih mementingkan kesenangan atau hobi selain anaknya

Jika nanti kamu telah menjadi seorang ibu dan melakukan salah satu hal di atas, berarti kamu membenci dirimu sendiri.

Rabu, 14 Oktober 2015

Produk hayalan 2

Sebentar lagi musim hujan, akan sering dapati kaos kaki cepat kotor, kalau mencuci cepat kering tidak ada masalah, tapi kalau sudah dicuci tapi lama keringnya itu yang masalah.😩😩
Kaki adalah satu aurat yang harus ditutupi, jadi bagaimana jika stok kaos kaki kita habis, tapi kegiatan kita mengharuskan untuk memakainya??
Nah.. Produk hayalan kali ini adalah penutup kaki anti air, tentu bukan sepatu, tapi sejenis jas hujan yang menutupi baju utama dari hujan, kita juga butuh perlengkapan seperti itu, membungkus kaos kaki dari hujan atau jalanan becek.

Kita sebut saja kaos kaki plastik. Dengan bahan sejenis plastik transfaran, tipis tapi tidak mudah rusak, dan tentu tidak perlu dicuci, cukup dilap jika kotor. Siapa yang ga mau punya perlengkapan satu ini??, apalagi para muslimah yang sangat membutuhkannya.
Semoga ada secepatnya perlengkapan sejenis itu. Aamiin 😊😊